komput@si (ISSN 2086-5317) http://www.komputasi.lipi.go.id

Nusa, Translator Program Komputer Pertama Buatan Indonesia
Merry Magdalena (Sinar Harapan)

Program komputer sudah saatnya diciptakan oleh orang Indonesia. Sayang kurang dilirik industri. Program translator Nusa jauh lebih mudah dari yang sudah ada. Bagaimana kinerjanya? Setiap program komputer yang kita pakai membutuhkan translator. Dengan tools tersebut baru sebuah program komputer dapat berjalan baik. "Bahasa pemrograman itu seperti rancangan bangunan, sedangkan translator adalah bangunannya,” ujar Bernaridho I. Hutabarat, pakar bahasa pemrograman komputer kepada pers di Jakarta, Senin (30/4).

"Masalahnya, translator yang ada saat ini bekerja secara rumit dan masih buatan orang luar semua. Translator yang saya kembangkan masih berupa basis, namun sudah menjanjikan langkah yang lebih sederhana yang menjadi keunggulan dibanding yang sudah ada.”

Bernaridho memfokuskan diri pada translator karena bisnis peranti lunak pada dasarnya berpusat pada translator dan bahasa pemrograman. Seperti Sun Microsystem misalnya yang memproduksi Java, Cisco System yang membuat bahasa pemrograman sendiri, juga Microsoft yang melahirkan C# dan Visual Basic. Menurut Bernaridho, sampai saat ini belum ada program translator yang dikembangkan oleh orang Indonesia secara serius. "Kalaupun ada hanya sekadar untuk eksperimen saja, bukan ditekuni untuk pengembangan secara luas,” ungkapnya. Translator Nusa atau Batak yang dikembangkan Bernaridho lebih mudah dipelajari daripada C++, C#, dan Java. Translator ini memudahkan pemahaman modul dan pemrograman moduler, hal yang sangat sulit dipahami dari C++, C#, Java, JavaScript, XML, HTML, dan banyak bahasa pemrograman lain.

Bahasa pemrograman adalah bahasa buatan yang ditujukan untuk memberi instruksi kepada komputer. Bahasa pemrograman memungkinkan untuk membuat baris-baris program yang bisa dimengerti komputer, sehingga mengeluarkan output seperti yang diinginkan.

Menurut Bernaridho, aplikasinya ini masih bersifat dasar. Butuh banyak pengembangan dari berbagai pihak khususnya pengoprek komputer. Rencananya aplikasi ini akan dibuka source code-nya sehingga siapa saja dapat mengembangkan secara bebas. "Biarkan saja orang luar ikut mengembangkan aplikasi ini, namun lisensinya tetap pada orang Indonesia,” demikian Ridho.

Translator Nusa akan diikutkan dalam program Indonesia, Go Open Source (IGOS) dengan harapan dapat dipromosikan sebagai aplikasi Open Source ke seantero ilmuwan Indonesia. "Kami akan lihat bagaimana segmennya. Jika memang banyak dibutuhkan, akan kami berikan rekomendasi ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indoensia (LIPI) atau badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk dikembangkan lebih lanjut,” ujar Engkos Koswara, Asisten Deputi Pengembangan Teknologi Informasi Kementerian Ristek dalam kesempatan serupa.

Batak atau Nusa sebagai bahasa pemrograman yang utuh sudah rampung sejak tahun 2001. Tapi dalam tahapan ini, Batak baru bisa disebut sebagai parser yang fungsinya hanya sebatas menentukan apakah sintaks yang diinputkan benar atau salah. Namun Batak belum memiliki translator utuh, sehingga belum bisa menterjemahkan sintaks menjadi output yang diinginkan.

Ridho sendiri baru mengerjakan translator-nya pada tahun 2005, tapi banyak ditinggalkan karena banyak menemui kesulitan. Baru pada 1 April 2007, Batak memiliki translator meski masih dalam skala kecil. Ia juga pernah mencoba menyerahkan pembuatan translator ke pihak peneliti di AS. Tapi biayanya mahal sekali berkisar US$10.000 - US$ 30.000 tergantung tipe translator yang diinginkan, apakah mau yang sederhana atau sampai yang mendukung GUI (Graphical User Interface).

Sumber : Sinar Harapan (1 Mei 2007)


revisi terakhir : 29 Juni 2007