komput@si (ISSN 2086-5317) http://www.komputasi.lipi.go.id

LaTex, Wordprocessor Berkualitas Tinggi
Terry Mart (Fisika UI)

Mendengar kata LaTeX, mungkin bayangan yang muncul adalah suatu produk dari getah karet. Namun, LaTeX yang satu ini adalah peranti lunak pengolah kata (wordprocessor) yang umum digunakan peneliti, dosen, atau mahasiswa bidang sains.

Sebenarnya, penggunaan LaTeX saat ini tidak hanya terbatas pada bidang sains, tetapi sudah jauh merambat ke bisnis, kesekretariatan, media cetak, juga sastra. LaTeX bahkan dapat dipakai untuk pengolah kata dalam bahasa Arab, Ibrani, Jepang, China, dan lain-lain.

Meski demikian, LaTeX akan terlihat jauh lebih menonjol dibandingkan dengan pengolah kata lain jika digunakan untuk memproses dokumen atau buku yang memiliki banyak persamaan matematis.

Sejarah LaTeX bermula pada tahun 1977. Adalah Donald E Knuth, ahli pemrograman komputer di Universitas Stanford, yang pertama kali menciptakan program pengolah kata ini. Berawal dari keprihatinannya atas penurunan kualitas cetak dari buku yang ia tulis, Knuth menulis program komputer untuk mengolah kata yang ia sebut sebagai TeX.

Bersama program itu, Mei 1977 ia juga menulis program METAFONT untuk mendesain bentuk serta ukuran huruf yang akan dicetak. Meski kedua program menjadi sangat populer di kalangan ilmuwan, TeX kurang begitu ramah terhadap pemakainya karena dirasakan sebagai bahasa yang lebih dekat dengan mesin ketimbang manusia.

Ilmuwan komputer

Tahun 1980 Leslie Lamport, ilmuwan komputer lulusan Universitas Brandeis, menciptakan sistem preparasi dokumen berbasis program TeX. Sistem ini mengubah TeX menjadi lebih mudah dipakai dan manusiawi. LaTeX juga mengubah perhatian pemakai yang semula terkonsentrasi pada masalah tipografi serta format dokumen. Dua hal ini di dalam LaTeX sudah ditangani oleh desainer dokumen sehingga pemakai tinggal memikirkan struktur serta isi dokumen yang ia tulis.

Anda mungkin kenal file html yang menampilkan tulisan serta gambar di browser internet. Seperti file html, file LaTeX berisi kode-kode perintah penulisan teks atau formula. Kode-kode tersebut ditulis dalam bentuk ASCII (teks biasa) dan sebenarnya sangat logis.

Untuk menulis

Kode-kode perintah dimulai dengan karakter backslash (\) dan dikelompokkan dalam kurung kurawal. Misalnya, untuk menulis, pemakai harus menulis \alpha, sedangkan untuk menuliskan tanda panah dibutuhkan kode \rightarrow.

File LaTeX kemudian dikompilasi dengan program LaTeX yang akan menghasilkan output berupa file dvi (device independent) yang dapat ditampilkan pada layar monitor. Karakter-karakter yang ditampilkan adalah hasil jerih payah program METAFONT.

Untuk mencetak dokumen di atas kertas, file harus diubah ke dalam bahasa yang dimengerti printer, misalnya postscript atau pdf, dengan bantuan program dvips dan ps2pdf. Dewasa ini perintah pdftex lebih banyak dipakai untuk mengubah file LaTeX langsung menjadi file pdf. Jika Anda meng-install LaTeX, semua program yang dibutuhkan sudah tersedia (built in).

LaTeX jelas sangat menguntungkan karena sistem ini dapat diperoleh secara gratis dan setiap orang dapat berpartisipasi dalam pengembangannya. Dengan maraknya penegakan hak cipta serta pemberantasan peranti lunak bajakan, tentu saja sistem-sistem gratis merupakan solusi total terutama untuk negara berkembang.

Karena dokumen LaTeX disiapkan dalam bentuk kode program, otomatisasi sistem akan sangat mudah. Saat ini server-server publikasi ilmiah mayoritas menggunakan LaTeX karena setiap pengguna dapat mengirimkan makalah mereka secara elektronik yang selanjutnya akan diproses, diformat, diberi nomor, dan disimpan secara otomatis oleh server tanpa campur tangan manusia.

Server semacam ini tentu saja sangat efisien, murah, dan dapat menangani hingga ratusan makalah per hari. Contoh server jenis ini adalah server makalah fisika yang semula dibangun di Los Alamos dan kini berada di Universitas Cornell. Dengan kemajuan teknologi internet, server tersebut bisa menangani hampir 5.000 makalah per bulannya, dari fisika, matematika, hingga biologi.

Praktis penggunaannya

Jurnal-jurnal ilmiah sangat senang menggunakan LaTeX karena desain detail format dokumen setiap jurnal hanya diperlukan satu kali. Format ini disimpan dalam file sty atau cls yang merupakan file input LaTeX. Pemakai tinggal memilih format apa yang ingin ia gunakan.

Sistem ini memangkas mayoritas biaya proses pengeditan dari sebuah jurnal sehingga biaya publikasi dapat ditekan serendah mungkin bahkan gratis. Saat ini, misalnya, jurnal fisika terkenal Physical Review mengenakan biaya konversi makalah hingga 500 dollar AS per makalah, jika makalah ditik dengan MS-Word, tetapi gratis jika penulis menyiapkan makalahnya dalam bentuk LaTeX.

Jurnal Fisika dari Himpunan Fisika Indonesia juga menggunakan LaTeX, tetapi biaya konversi jika penulis tidak menggunakan LaTeX hanya Rp 5.000 (setengah dolar) per halaman.

Keuntungan selanjutnya menyangkut efisiensi penyimpanan dokumen. Karena dokumen disimpan dalam kode ASCII, memori yang dibutuhkan sangat kecil dibandingkan dengan pengolah kata lain. Efisiensi ini jelas terasa sangat kritis bagi server yang diceritakan di atas, tetapi juga sangat menguntungkan pemakai yang tidak menginginkan harddisk ratusan gigabyte di laptopnya.

Masalah akurasi ukuran serta jarak antarkarakter, yang merupakan masalah inheren pengolah kata, dapat dipecahkan dengan elegan oleh LaTeX karena program LaTeX akan menghitung secara presisi bentuk-bentuk font serta mengoptimalkan jarak antarmereka di dalam dokumen. Dampak dari akurasi ini adalah resolusi font yang sangat tinggi (di atas 1.000 dpi) yang dihasilkan oleh LaTeX.

Program LaTex

Selain itu, program LaTeX sangat stabil. LaTeX dapat dipasang di semua platform, mulai dari PC, mainframe, hingga superkomputer.

LaTeX dapat dijalankan dengan sistem operasi Linux, Unix, VMS, Mac-Intosh, ataupun MS-Windows. File LaTeX yang ditulis 15 tahun silam dapat dibaca tanpa perubahan format saat ini, suatu hal yang mustahil jika menggunakan pengolah kata lain.

Tahun 1994 seorang teman kuliah berkebangsaan Jerman, Joerg Knappen, menanyakan apakah saya berminat memasukkan bahasa Indonesia ke dalam paket Babel, sebuah paket yang memungkinkan LaTeX mengolah multibahasa. Tawaran tersebut tentu saja saya terima dengan antusias.

Namun, respons dari masyarakat intelektual saat itu, terutama para pelajar dan ilmuwan yang tinggal di luar negeri, hampir tidak ada.

Saya catat hanya satu respons berupa keluhan terhadap paket yang dinamakan BAHASA itu. Keluhan menyangkut masalah pemenggalan kata (hyphenation) yang saat itu memang belum tersedia.

Tahun 1997, saat saya kembali ke Jerman untuk penelitian pascadoktoral, bersama dengan Joerg Knappen saya mencoba merumuskan tata cara pemenggalan kata. Tentu saja hal ini tidak mudah karena keterbatasan pengetahuan saya di bidang ini. Meski demikian, dengan spirit seseorang akan melanjutkan usaha ini, kami berhasil membuat sistem pemenggalan kata sederhana. Hasilnya dimasukkan dalam satu file dengan nama inhyp.

Saya juga mengklaim bahwa sistem ini berlaku untuk bahasa Melayu. Di Departemen Fisika UI, paket ini sudah banyak digunakan terutama pada pengetikan proposal dan skripsi mahasiswa. Bagi yang berminat, semua file tentang LaTeX dapat diambil dari situs www.ctan.org.

Pengalaman ikut berpartisipasi dalam "masyarakat gotong royong" ini ternyata sangat menyenangkan.

Meski secara finansial tidak menguntungkan, banyak yang bisa saya pelajari. Terutama sekali, dalam masyarakat ini semua orang saling menghargai dan semua orang berusaha untuk melayani, tidak untuk dilayani!

Sumber : Kompas (1 Agustus 2005)


revisi terakhir : 1 Agustus 2005