komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Selasa, 13 November 2018  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Matematika Numerik Anak Tasik
Hatim Ilwan

Yogi Ahmad Erlangga (Istimewa)JAGOAN matematika Indonesia, Yogi Ahmad Erlangga, disebut sebagai matematikawan Belanda. Begitulah menurut situs ilmu dan teknologi www.physorg.com. Situs internet Amerika Serikat itu menulis kepala berita: "Dutch Mathematician Simplifies the Search for Oil'' (Matematikawan Belanda Mempercepat Pencarian Minyak).

Judul berita tersebut membuat Yogi Ahmad Erlangga terhenyak. Sebab, yang disebut sebagai matematikawan Belanda itu tak lain adalah dirinya. "Saya bukan Belanda, melainkan asli urang Tasikmalaya," ujar Yogi, yang lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 1974.

Rupanya, situs itu salah mengutip siaran pers Universitas Teknologi Delft, Belanda, tempat Yogi menyelesaikan studi doktor matematikanya. Memang, sebuah perguruan tinggi teknologi ternama itu, Desember silam, melansir berita keberhasilan Yogi memecahkan rumus matematika berdasarkan "Persamaan Helmholtz".

Tak seperti biasanya, sidang ujian doktor di Delft kali ini berlangsung lebih lama. Saat itu, banyak mahasiswa Delft meramalkan Yogi bakal lulus cum laude. Mengingat, ia dikenal brilyan sejak masih kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Yogi lulus cum laude sarjana teknik penerbangan.

Ketika menempuh program master di Universitas Delft pun, ia lulus cum laude. Sayang, saat menempuh ujian doktor, ia tak bisa mengukir prestasi yang sama. Yogi lulus doktor mamematika terapan dengan predikat sangat memuaskan. Toh, itu tak membuatnya kecewa.

Keberhasilan Yogi memecahkan rumus Persamaan Helmholtz adalah tonggak penting bagi ilmu pengetahuan dan pengembangan teknologi. Hasil temuannya dapat diterapkan dalam sejumlah bidang. Salah satunya, bisa digunakan untuk mempercepat pencarian sumber-sumber minyak bumi.

Ia mampu memecahkan Persamaan Helmholtz yang rumit, setelah mendalaminya selama empat tahun. "Saya harus menyelesaikan Persamaan Helmholtz secara numerik," tutur Yogi. Dengan riset yang menghabiskan dana hampir Rp 6 milyar itu, ia berhasil mengembangkan metode perhitungan lebih cepat.

Hasil temuannya disambut hangat oleh pakar matematika dari pelbagai negara. Sehari setelah keberhasilannya dipublikasikan, Yogi mendapat ucapan selamat dari para profesor matematika di perguruan tinggi ternama di Eropa, Amerika, dan Israel. "Ini di luar perkiraan saya," katanya.

Tak hanya itu. Yogi pun menjadi buruan media. Salah satunya, ia diminta mengisi acara talk show ilmu pengetahuan di Radio Nederland yang disiarkan secara langsung ke seantero jagat. Permintaan wawancara dari sejumlah televisi asing pun mengalir.

Lantaran izin tinggal di Belanda sudah mepet, Yogi tak dapat memenuhi semuanya. Kehadirannya diwakili salah satu pembimbingnya, Prof. Kess Vuik. "Berdasarkan respons yang kami terima dari kalangan industri dan universitas, temuan ini berhasil memecahkan masalah yang telah berumur 30 tahun," kata Prof. Vuik.

Perusahaan minyak internasional, Shell, mengakui bahwa temuan Yogi dapat membuat metode penemuan minyak bumi 100 kali lebih cepat dari sebelumnya. Selama ini, industri perminyakan memang menggunakan Persamaan Helmholtz untuk mencari ladang minyak di perut bumi (baca: Mencari Minyak Lewat Gelombang).

Hanya saja, komputer para teknokrat perminyakan kesulitan menerapkan Persamaan Helmholtz untuk melacak kandungan minyak. Yogi kemudian berusaha mengembangkan metode perhitungan yang lebih ringkas untuk menginterpretasikan data pengukuran akustik dalam pencarian minyak.

Karena itulah, Shell dan Phillips bersedia membiayai penelitian Yogi. Terlebih lagi, rumusan Yogi ini tak hanya berguna untuk mempercepat pencarian minyak. "Banyak terapan lainnya," ujarnya. Misalnya, Yogi saat ini sedang bekerja sama dengan Profesor Eli Turkel dari Universitas Tel Aviv, Israel, untuk mengembangkan temuannya guna meneliti efek pantulan (scattering) gelombang akustik oleh benda keras.

Hal yang sama bisa diterapkan untuk peralatan yang menggunakan gelombang elektromagnetik. Misalnya untuk desain pemutar CD/DVD, radar, dan akustik mesin pesawat. "Ada juga seorang peneliti dari Chinese Academic of Science di Beijing yang tertarik mengembangkannya pada bidang meteorologi," kata Yogi.

Walau begitu, Yogi tak ingin menyebut temuannya itu sebagai Rumus Erlangga. "Pada dasarnya, tidak ada yang sangat baru dari penelitian saya," ujarnya merendah. Beberapa ilmuwan sudah mengembangkannya lebih dulu. "Saya hanya menggali lebih dalam berdasarkan konsep-konsep mereka," Yogi menjelaskan.

Yang pasti, Yogi kini mendapat banyak pinangan dari perusahaan dalam dan luar negeri. Antara lain perusahaan minyak Shell International. Lembaga Aplikasi Penelitian dan Industri ITB pun memintanya untuk bekerja sama. "Saya juga diajak kerja sama untuk menggarap ladang minyak Cepu," ucap Yogi.

Semua tawaran itu ditampiknya dengan halus. "Obsesi saya adalah menjadi seorang peneliti," kata Yogi, yang bercita-cita membangun pusat pengembangan ilmu komputasi dan rekayasa. Dari sanalah ia berharap dapat mengembangkan metodologi numerik sekaligus menerapkannya.

Sumber : Gatra (Nomor 28, 22 Mei 2006)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 3 Maret 2007

 

PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 1 Maret 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI