komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Senin, 23 Oktober 2017  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Grid Computing : Memangkas Biaya Produksi Para Pelaku Ekonomi
SH/fransisca r. susanti

JAKARTA - Awal pekan ini, sebuah studio pengembang dan penyedia infrastruktur untuk pasar permainan video online Butterfly.net mempertontonkan sistem Butterfly Grid kepada para anggota industri permainan video di Electronic Entertainment Expo (E3) 2002 di Los Angeles. Sistem ini memungkinkan para penyedia permainan video menyelenggarakan satu permainan yang didukung sejumlah pemain. Caranya, mengalokasikan sumber daya komputasi untuk daerah populasi paling besar dan untuk permainan-permainan yang paling banyak diminati.

Grid ini dibangun oleh Butterfly.net selama dua tahun dengan menggunakan teknologi infrastruktur e-business milik raksasa biru IBM. Teknologi IBM memungkinkan distribusi pemrosesan interaksi permainan video dalam sebuah jaringan server farm, sehingga Buttefly.net dapat mendukung sejumlah besar pemain video yang bermain secara berbarengan via Internet.

Penyedia permainan video dapat mengakses Grid tersebut, guna mendukung produk online mereka , dengan memasukkan perpustakaan software klien milik Butterfly Grid ke dalam permainan yang mereka distribusikan.

Perpustakaan-perpustakaan software ini, serta contoh kode untuk menghubungkan perangkat mobile, PC dan konsole permainan video dengan Grid tersebut, bisa di-download di www.butterfly.net. Desain Grid ini diklaim mampu mendukung lebih dari satu juta pemain secara bersamaan dari setiap fasilitas dengan 99,9 persen up time.

Konsep Baru

Grid Computing sendiri sebenarnya merupakan inisiatif baru di industri teknologi informasi (TI). Menurut Dino Bramanto, Product Manager, eServer iSeries IBM Indonesia, inisiatif ini mengizinkan sejumlah kalangan memanfaatkan daya komputing untuk keperluan mereka melintasi batas geografi. Apakah mirip dengan peer to peer (P2P) yang dikembangkan perusahaan mikroprosesor Intel Corporation. "P2P kan skala kecil, kalau Grid Computing ini dimanfaatkan dalam skala besar," ujar Dino kepada SH di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sekedar gambaran, teknologi peer to peer (P2P) mulai tenar di kalangan pengguna komputer pada tahun 1980-an. Teknologi berbasis P2P memungkinkan pengguna komputer menyumbangkan daya komputer yang tidak terpakai untuk membangun sebuah superkomputer virtual. Superkomputer virtual ini mampu menganalisa milyaran molekul dalam waktu sepersekian dari waktu yang dibutuhkan untuk melakukan analisis di laboratorium.

Pemanfaatan teknologi P2P terbaru dilakukan tiga perusahaan TI Amerika Serikat (AS), yakni Microsoft, Intel dan United Devices dalam proyek pemberantasan Antraks. Proyek sebelumnya yang dilakukan Intel dengan memanfaatkan P2P adalah riset kanker. Menurut Thommas Tansil, Marketing Manager Intel Indonesia Corporation, riset kanker tersebut memanfaatkan kemampuan komputasi 1,3 juta Personal Computer (PC) dari seluruh dunia. Super komputer virtual yang terbangun dari 1,3 juta PC tersebut lebih kuat dari gabungan 10 superkomputer terbesar yang ada saat ini. Selain itu, ada juga program SETI@home yang dirancang Intel sebagai pendukung bidang riset ilmu pengetahuan untuk mendeteksi sinyal radio dan cahaya dari kehidupan luar angkasa.

Selain memberikan bentuk baru komputasi, teknologi P2P juga berhasil membentuk suatu masyarakat di dunia maya, di mana orang saling memberi dan menerima informasi secara gratis.

Jadi jika membandingkan sistem yang dikembangkan Butterfly.net dan IBM serta teknologi P2P Intel, sebenarnya tidak ada perbedaan. Namun, Dino menyebut bahwa dalam grid computing bukan tidak mungkin akan dipungut biaya untuk penggunaan daya komputing ini. "Mekanismenya bagaimana, saya belum punya gambaran karena grid computing sebenarnya baru sebatas konsep," ujar Dino.

Pernyataan Dino tentang pungutan ini masuk akal karena inisiatif grid computing muncul dari kalangan industri. Sementara teknologi P2P, saat ini, baru sebatas untuk kepentingan sosial atau kemanusiaan.

Ekonomi Masa Depan

Sampai tahun 2002, pembahasan mengenai grid computing terus dilakukan oleh sejumlah negara. Salah satu pembahasan adalah mengenai pengembangan infrastruktur untuk mendukung ekonomi berbasis jaring komputasi ini atau disebut dengan GRid Architecture for Computational Economy (Grace).

Komponen kunci dari infrastuktur Grace ini meliputi Grid Resource Broker, Grid Resource and Market Information Server, Grid Open Trading Protocols, Trade Manager (bagian dari broker yang terlibat dalam harga layanan yang ditetapkan), dan Grid Trade Server yang bekerja untuk Grid Service Provider.

Infrastruktur Grace ini mendukung interface umum yang dapat digunakan oleh piranti jaringan dan programmer aplikasi untuk membangun software yang mendukung ekonomi komputasi.

Sebagai sebuah sistem komputasi yang baru lahir, Grid dibangun dengan kelompok-kelompok server yang terhubung jadi satu di Internet, dengan menggunakan protokol-protokol yang disediakan oleh komunitas standard terbuka Globus, termasuk Linux.

Seperti halnya World Wide Web yang memungkinkan kita untuk berbagi kandungan pada berbagai standar dan protokol terbuka, protokol Grid yang diciptakan komunitas standar terbuka Globus akan memungkinkan organisasi-organisasi untuk menciptakan organisasi virtual yang saling berbagi aplikasi, data dan tenaga komputasi di Internet, untuk berkolaborasi, mengatasi masalah-masalah penting dan memangkas biaya komputasi.

Kalau mau didefinisikan, grid computing adalah model untuk mengembangkan dan mendistribusikan aplikasi performa tinggi di Internet. Dalam model jaringan ini, aplikasi dapat menarik data, sumber komunikasi dan komputasi yang diminta dari sistem server yang tersedia yang terhubung ke Internet. Sistem ini tergabung dalam protokol standar yang disusun oleh komunitas terbuka Globus.

Meski masih sebatas konsep, langkah yang diambil Butterfly.net bisa menjadi pendahuluan dari realisasi proyek besar ini.

Sumber : Sinar Harapan (23 Mei 2002)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 4 Desember 2004

 

PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 1 Maret 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI